Minggu, 03 Juni 2012

Imunisasi = disuntik + demam :(

Sebagai ibu yang baik, sudah menjadi tanggungjawab saya untuk memberikan lima imunisasi dasar kepada Balqis agar dia terhindar dari ancaman penyakit yang berbahaya. Tapi saya selalu tidak nyaman saat melihat Balqis disuntik, sangat tidak tega rasanya, untung saja Balqis tidak termasuk bayi yang cengeng, jadi nangisnya hanya sekitar 5 menit dan selanjutnya tertawa lagi.
Balqis saat diimunisasi oleh bidan didampingi Abi


Dilema selanjutnya adalah demam setelah imunisasi, biasanya setelah imunisasi DPT I, II, III bayi akan mengalami demam, memang itu hal yang wajar, namanya juga "tentara" di tubuh Balqis lagi "latihan perang" lawan penyakit jadi pantaslah kalo sedikit terjadi "pergolakan" dan "konflik" di tubuhnya. Sekali lagi saya beruntung Balqis bukanlah bayi yang gampang rewel, meskipun demam dan tidak enak badan dia jarang sekali menangis.

Balqis tidur dengan termometer di ketiak
Saya ikuti saran tetangga saya yang menyuruh saya memberi Balqis paracetamol sebelum diberi vaksin agar demamnya tidak terlalu berat. Setelah divaksin, bidan menyarankan untuk kembali memberikan paracetamol secara berkala, yaitu 4 jam setelah pemberian paracetamol pertama, lalu 6 jam dan kemudian diberikan setiap 8 jam sekali, bila demam sudah turun, pemberian paracetamol dihentikan.

Keesokan harinya Balqis menjadi sedikit rewel, dia sering menolak saat diberikan susu padahal sedang kelaparan, mungkin karena pengaruh demamnya yang membuat dia begitu. Tapi saya selalu telaten memaksanya untuk minum susu, agar tidak terjadi dehidrasi. Saya selalu mengontrol suhu tubuh Balqis, agar bila demamnya terlalu tinggi saya bisa segera ambil tindakan.

Balqis dikompres agar demamnya turun

Balqis juga saya beri pakaian yang tipis dan menyerap keringat, karena ada pengalaman teman saya yang memakaikan jaket dan trainer saat anaknya demam malah membuat anaknya step. Saya juga mengompresnya dengan Bye Bye Fever sehingga demam Balqis cepat turun. Alhamdulillah demam Balqis tidak berlarut-larut sehingga dia jadi ceria seperti sedia kala.

Kamis, 31 Mei 2012

Balqis dan panas

"kostum" Balqis saat cuaca panas
Selama ini musuh utama Balqis adalah haus, sakit perut dan panas (baca: gerah). Untuk urusan panas, memang agak susah mengatasinya, pengennya sih menyalakan kipas angin, tapi takut malah masuk angin, mau dikipasin secara manual eh lama-lama pegel juga dan akhirnya Balqis rewel lagi. Lalu kami ambil keputusan nekat (dengan bismillah terlebih dahulu tentunya), kami membuka baju Balqis dan membiarkan dia hanya mengenakan singlet atau kaos dalam. Dan ternyata it works!! Balqis bisa tidur nyenyak...! Alhamdulillah...

Saya jadi heran pada orang-orang yang masih membedong bayinya walau cuaca sedang panas, bahkan saya sempat melihat seorang teman yang memakaikan piyama (atasan dan bawahan panjang) ditambah lagi kaos tangan dan kaos kaki pada bayinya. Well, di kota tempat tinggal kami itu jauh dari kata sejuk, jadi kasihan sekali melihat bayi itu "dibungkus" sedemikian rupa. Kalau Balqis diberi pakaian seperti itu saat cuaca panas, wah tidak bisa dibayangkan bagaimana rewelnya.

Rabu, 30 Mei 2012

Ayo tidur baby...

Di awal usianya Balqis sulit sekali tidur di malam hari, tidak sampai satu jam dia tidur kemudian bangun lagi dan setelah saya gendong sambil disusui baru dia tidur lagi, itupun tidak lama. Hal itu justru terbalik di siang hari, entah karena malamnya kecapekan karena kurang tidur jadinya Balqis tidur sangat lelap di siang hari, dia bisa tidur dari jam 8 pagi hingga jam 12 siang, dan bangun hanya untuk minum susu kemudian tidur lagi hingga jam 3 sore.
Posisi tidur Balqis bila terlalu nyenyak

Siklus seperti itu dianggap wajar tapi tidak sehat, karena tidur siang yang terlalu lama sehingga Balqis jadi kurang minum, padahal seharusnya tiap 2 jam sekali bayi diberi minum agar tidak sakit kuning. Dan konsekuensinya adalah saya juga jadi sangat kurang tidur, pagi hari saat Balqis tidur saya tidak bisa ikut tidur karena kata orang ibu yang baru saja melahirkan dilarang tidur sebelum duhur, bisa bikin darah putih naik katanya, yang pada akhirnya buat mata jadi katarak. Tidak hanya itu mitos yang saya dengar, masih banyak lagi yang lebih tidak masuk akal. Saya sih nurut saja, daripada ribut.
Balqis tidur dengan Abinya


Seiring waktu, siklus tidur Balqis jadi sedikit berubah, dia justru tidak bisa tidur di siang hari. Saya khawatir pertumbuhannya terganggu karena bayi kan setidaknya tidur selama 18 jam sehari. Untung saja tidur malam Balqis nyenyak sekali, apalagi saya juga selalu memakaikan popok sekali pakai agar tidurnya tidak terganggu. Tapi penggunaan popok sekali pakai pun tidak luput dari mitos, kata orang jangan sering-sering menggunakannya, bisa bikin kaki berbentuk O.

Selain karena ngompol, Balqis juga sering terganggu akan suara-suara ribut di sekitarnya, telinganya sensitif walau sedang tidur sekali pun, sangat mirip Abinya dan beda jauh dengan saya yang hampir tidak mendengar apa-apa saat tidur, hingga suami menjuluki tidur saya seperti orang mati. LOL

Saya jadi lebih galak kepada keponakan-keponakan saya yang kebetulan serumah dengan mamah, saya sering memarahi mereka bila terlalu ramai. Dan setelah pindah ke rumah suami, giliran anak-anak kos yang saya omelin. Maklum, naluri ibu kan begitu, apa saja yang mengganggu ketenangan anaknya pasti dilibas. Hehehe...