Sabtu, 09 Januari 2016

Lady Balqis to Lady Gaga

Seperti yang pernah saya ceritakan di postingan tahun 2012 tentang nama Lady Balqis Ufairah yang saya pakai untuk menamai anak saya. Disini saya sedikit menceritakan kembali sejak 2010 saya sangat menyukai sosok penyanyi asal Amerika yang mempunyai nama asli Stephanie Germanotta (kalo ga salah) yang biasa disebut Lady Gaga atau Mother Monster.

Saya pun menambahkan kata "Lady" di depan nama "Balqis Ufairah" yang awalnya diberikan oleh suami saya. Seperti sudah diketahui, dibalik kekaguman saya terhadap penyanyi Lady Gaga, nama Lady juga adalah sebutan atau gelar kebangsawanan dalam kerajaan Inggris.

Sejak 2010 hingga sekitar akhir 2013 saya selalu mengunduh lagu bahkan video musik dari Lady Gaga, namun sejak 2014 rasanya lagu2 Lady Gaga sudah tidak cocok lagi di telinga saya. Hingga di pertengahan 2015 saya kembali mengunduh lagu barunya yang berjudul "Till it happens to you" yang bergenre slow, tidak jejingkrakan seperti lagu biasanya. Saya putar lagu tersebut dengan lagu - lagu lain yang terdapat dalam playlist saya setiap pagi sebelum berangkat kerja. Beberapa minggu kemudian saya harus kehilangan Balqis, kemudian saya lupa rasanya menikmati hidup melalui musik. Hingga saat saya mulai sadar saya harus bangkit, saya mulai rutinitas seperti biasa, memutar lagu di playlist sebelum berangkat kerja. Tiba giliran lagu tersebut diputar, saya langsung menyimak kata demi kata..

Kebetulan sekali lirik lagu ini sangat sangat menggambarkan kondisi saya saat itu. Yang awalnya saya tidak peduli dengan isi lagunya, saya kemudian mulai memaknai liriknya..

Ibaratnya saya bisa numpang curhat melalui lagu ini, maknanya begitu pas dengan hati saya dan kondisi orang - orang di sekitar saya.

Beginilah lirik lagunya....

You tell me "it gets better, it gets better,
in time"
You say I'll pull myself together, pull it together,
"You'll be fine"
Tell me what the hell do you know,
What do you know,
Tell me how the hell could you know,
How! could you know

Till it happens to you, you don't know
How it feels,
How it feels.
Till it happens to you, you won't know
It won't be real
No It won't be real
Won't know how it feels

You tell me "hold your head up"
Hold your head up and be strong
Cause when you fall, you gotta get up
You gotta get up and move on."

Tell me, how the hell could you talk,
How could you talk?
Cause until you walk where I walk,
It's just no joke!

Till it happens to you, you don't know
How it feels,
How it feels.
Till it happens to you, you won't know
It won't be real (how could you know?)
No It won't be real (how could you know?)
Won't know how I feel

Till your world burns and crashes
Till you're at the end, the end of your rope
Till you're standing in my shoes, I don't wanna hear a thing or two
From you, from you, cause you don't know

Till it happens to you, you don't know
How I feel
How I feel
How I feel
Till it happens to you, you won't know
It won't be real (how could you know?)
No It won't be real (how could you know?)
Won't know how It feels

Till it happens to you, happens to you,
Happens to you.
Happens to you, happens to you,
Happens to you ( how could you know?)

Till it happens to you, you won't know how I feel.

Kamis, 10 Desember 2015

Jumat keempat tanpa Balqis

Sudah minggu ke-4 tanpa Balqis...
Dan saya rasanya masih kurang begitu waras

Maaf harus skip cerita saat Balqis menghembuskan nafasnya yang terakhir di ICU, saya belum mampu menguak luka itu lagi.
Disini saya hanya ingin menggambarkan bagaimana segala kerumitan harus saya hadapi dengan tetap santun dan "tidak keminter"

Sudah 4 minggu ini saya menghadapi orang2 berbeda dengan pemikiran yang beragam, baik yang paham agama atau yg tidak, begitu pula yg berilmu maupun yg low educated.
Saya capek, saya berusaha untuk berhenti berandai-andai, saya belajar memahami bagaimana manusia di dunia hanyalah menjalani skenario hidup dari yang Maha Kuasa...

Namun saat saya terpuruk, saat bahkan saya sendiri belum bisa memaafkan diri saya, orang-orang yang seharusnya berempati justru malah berspekulasi. Mereka hanya melihat saya saat saya duduk tegap, mereka tidak tau tiap saat saya memohon-mohon agar tubuh mungil itu bisa kembali saya dekap...

Entah karena mereka terlalu awam, atau bahkan terlalu kejam...
Kalau boleh saya sebut mereka 'nyinyir'

Karena beberapa orang merasa lebih bagus merawat dan mendidik anak,
Beberapa merasa sudah memberi perhatian dan kasih sayang penuh pada anaknya..
Tidak seperti malaikat kecil saya yang sering saya tinggal kerja
Bahkan beberapa lainnya 'mendewakan' rumah sakit atau bahkan dokter tertentu, tanpa mereka sadar siapa sebenarnya sang Maha Pemberi kesembuhan

Saya hanya berfikir, apa jadinya mereka jika berada di posisi saya saat ini? Atau saat dokter menyatakan bahwa anak saya sudah tiada? Apa mereka bisa lebih kuat dari saya? Atau mereka tidak menangis menyesal dan mengasihani diri seperti saya?

Disini saya hanya butuh untuk didampingi, bukan dikasihani, bahkan juga bukan untuk dihakimi

Dan 4 minggu ini, saya masih menjalani hidup layaknya mimpi..

Rabu, 16 September 2015

Bertemu Merak yang Cantik di Applesun Learning Center

Pertemuan keluarga kali ini bertempat di Applesun Learning Center di Kota Batu Malang, lokasinya sangat bagus, pemandangannya pun indah. Selain terdapat ruang pertemuan yang cukup besar serta restaurant, disana juga terdapat penginapan, dan outbond area. Untuk acara pertemuan keluarga semua fasilitas tersebut bisa dinikmati secara gratis bagi para undangan. Jadi saat para orangtua sibuk silaturrahmi dan bercengkrama dengan para saudara, anak - anak bisa bergabung dalam acara outbond yang telah disiapkan lengkap dengan pendamping dan pelatihnya. Khusus untuk outbond, disana juga telah dilengkapi flying fox dan mini trail arena. 

memberi makan merak

Selain sarana yang telah saya sebutkan di atas, di Applesun juga terdapat penangkaran ikan (yang saya kurang tau jenisnya), serta beberapa merak dan musang yang dipelihara dalam kandang. Balqis yang memang belum pernah bertemu merak secara langsung, terlihat sangat bersemangat dan senang melihat hewan yang satu itu. Selama ini dia hanya melihat dan mendengar suaranya melalui permainan puzzle digital di PC Tabletnya. Suara merak yang hampir mirip dengan suara kucing, selalu Balqis tirukan di depan merak tersebut untuk menarik perhatiannya. Balqis juga memberinya beberapa biji - bijian (yang entah dia dapat dari mana) untuk diberikan pada merak tersebut. Dia juga lantas bercerita dan mengoceh tentang merak yang mirip dengan yang dia lihat di puzzle, tak lupa juga dia menyebutkan warna - warni bulu merak dan indahnya bulu merak tersebut.
berfoto bersama di atas wahana flying fox